semua mata tertuju ke arahku
dan ia terus bicara
antusias, tak berhenti
setiap kata berakhir, ia selalu sambung dengan kata baru
dan
kemudian
karena
dari sana
matanya tak pernah berhenti menatapku
dan terus melontarkan ceritanya padaku
cerita yang segar
dengan ide-ide baru
cerdas, brilian, tulus, liar
filsafat, psikologi, psikiatri, religi, herbal, pronic
ia orang baru yang terlahir kembali
dari nanay-tatay yang tak berhenti berjuang
meski bayonet telah memenggal kepalanya
manila, 30 agustus 2008
I currently serve as the Vice Minister of Human Rights of the Republic of Indonesia. Before that, from 2002 to 2014 I was with IKOHI, a national association of victims of human rights violation. I was the Chair of AFAD, a Philippine-based Asian Federation Against Disappearances from 2006 to 2014. From 2015 to 2019 I was with INFID. From 2020 to 2024, I worked as a Senior Advisor at the Executive Office of the President of the Republic of Indonesia (KSP). I can be reached at mugiyanto@gmail.com.
Sunday, August 31, 2008
Tuesday, July 22, 2008
Mugi Dampingi Korban
Timika Pos
Sabtu, 28-06-2008 03:45 (GMT+9.5)
Mantan Korban Penculikan Aktivis, Apa Aktivitas Mereka Kini (1)
Mugi Dampingi Korban, Jati dan Nezar Jadi Jurnalis
Sepuluh tahun lalu para aktivis diculik dalam sebuah operasi rahasia. Saat belasan korban tak diketahui nasibnya hingga kini, beberapa orang beruntung masih bisa kembali ke rumah. Apa yang mereka lakukan dalam kehidupan "kedua" mereka kini?
FAROUK ARNAZ, Jakarta
LUKA batin Mugiyanto hingga kini belum juga sembuh. Satu dasawarsa berlalu ternyata tak membuat dia lepas dari pengalaman traumatik itu. Terutama jika melihat tatapan mata Oetomo Rahardjo, ayahanda Petrus Bima Anugrah; ataupun Ibu Nung, ibunda Yadin Muhidin, yang masih berharap anak-anak mereka –dua di antara 13 korban penculikan– suatu hari akan pulang.
Menurut Mugiyanto, sebagai survivor (korban selamat) peristiwa penculikan, perasaan itu awalnya ini hanya soal personal. Dia merasa beruntung sehingga terdorong harus berjuang untuk teman-temannya. "Tapi, kini (sudah berkembang) soal keadilan, kepastian, dan kehidupan. Orang yang diculik bukan hanya teman-temanku," kata Mugiyanto yang kini menjadi ketua IKOHI (Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia) kepada Jawa Pos.
Bapak seorang orang anak kelahiran Jepara, Jawa Tengah, 34 tahun lalu, hanyalah satu di antara sembilan korban penculikan yang selamat. Delapan korban yang lain adalah Aan Rusdianto, Andi Arief, Desmond Junaidi Mahesa, Faisol Reza, Haryanto Taslam, Nezar Patria, Pius Lustrilanang, dan Raharja Waluya Jati.
Adapun yang masih hilang hingga kini adalah Yani Afri, Noval Al Katiri, Dedy Umar, Ismail, Herman Hendrawan, Petrus Bima Anugrah, Yadi Muhidin, Hendra Hambali, Ucok M. Siahaan, M. Yusuf, Sonny, dan Wiji Thukul. Seorang lagi, Leornardus "Gilang" Nugroho, ditemukan tewas.
Peristiwa penculikan itu terjadi pada akhir rezim kekuasaan Soeharto. Saat itu gerakan yang potensial dan dinilai radikal sehingga menggerogoti kekuasaan rezim harus dilenyapkan. Belakangan, operator lapangan kasus itu terungkap. Ada 11 anggota Kopassus yang divonis bersalah. Lima di antaranya dipecat.
Tidak berhenti sampai di situ. Mantan Menhankam/Panglima ABRI Jenderal Wiranto mengumumkan hasil sidang Dewan Kehormatan Perwira yang mengakhiri karir Letjen Prabowo Subianto yang saat itu menjabat komandan Sesko ABRI. Sementara mantan Danjen Kopassus Mayjen Muchdi Purwopranjono dan mantan Komandan Grup IV/Sandi Yudha Kopassus Kol Inf Chairawan dibebaskan dari semua tugas dan jabatan struktural ABRI.
"Sampai kapan pun saya tak akan pernah lupa kengerian yang diciptakan saat itu," tambah Mugiyanto yang ketika kejadian adalah salah seorang aktivis Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (Smid) –sebuah organisasi underbouw Partai Rakyat Demokratik (PRD)– yang dikejar-kejar rezim Soeharto sebgai buntut kerusuhan di kantor PDI pada 27 Juli 1996.
Hari nahas bagi mahasiswa Fakultas Sastra Inggris UGM itu terjadi pada 12 Maret 1998. Saat itu dia diciduk bersama Aan dan Nezar di rumah susun Klender, Jakarta Timur. Rumah itu dijadikan markas bawah tanah PRD yang tetap ramai meski ketuanya saat itu, Budiman Sudjatmiko, dibui. "Sejak diambil itu, semua siksaan saya rasakan," imbuhnya.
Mugi, sapaan akrabnya, lalu dikejar para penyekap dengan pertanyaan seperti siapa saja teman-temannya. Tak hanya interogasi, dia juga menjalani siksaan seperti disetrum dan dipukuli dalam keadaan tangan diborgol.
Pada 15 Maret 1998, dia, Nezar, dan Aan diserahkan ke Polda Metro Jaya oleh penculiknya. Di markas korps baju cokelat itu, Mugi cs diproses pidana. Dia dikenai pasal subversif. Tapi, pada 6 Juni 1998, dia dilepaskan dari tahanan setelah mendapat penangguhan penahanan buntut tumbangnya rezim Soeharto pada 21 Mei 1998.
"Aku baru merasa jadi manusia setelah dibebaskan," imbuhnya. Darah aktivis Mugi tak pernah berhenti menggelegak hingga akhirnya menjadi ketua IKOHI, organisasi tempat mendiang Munir menjadi penasihatnya.
Bertahan di dunia aktivis juga dilakoni Raharja Waluya Jati yang saat itu ditemui di forum yang sama dengan Mugi. Jati yang protolan Fakultas Filsafat UGM adalah salah seorang pimpinan PRD. Lelaki kelahiran Jepara, 24 Desember 1969, itu diculik di RS Cipto Mangunksumo, Jakarta, pada 12 Maret 1998 saat bersama Faisol Reza berjalan dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).
"Semua jengkal dari peristiwa itu masih saya ingat," kata Jati yang kini menjadi direktur eksekutif radio Voice of Human Rights. Munir adalah mantan ketua dewan pendiri VHR.
Mengapa masih setia dengan dunia aktivis? "Ini tanggung jawab moral. Saya pernah hidup dalam situasi itu. Reformasi belum selesai," kata Jati yang pernah disiksa penculik dengan dibaringkan telanjang di balok es.
Jati mengaku tetap menghormati pilihan rekan-rekannya yang sibuk dengan dunianya masing-masing. "Mereka merespons politik dan menyalurkan asipirasi dengan cara bermacam-macam. Andi Arief, misalnya, juga Reza (Faisol Reza)," tambahnya.
Nezar Patria, korban penculikan yang lain, menjalani kehidupan berbeda. Pascabebas dari penculikan, lelaki kelahiran Sigli, Aceh, 5 Oktober 1970, yang pernah menjabat Sekjen Smid memilih berkarir di jurnalistik. Dia pernah bergabung dengan majalah Tempo. Namun, belakangan dia bergabung dengan portal berita ekonomi dan politik Kanal One di media grup milik Aburizal Bakrie.
"Hingga kini belum ada partai politik yang cocok. Partai yang kuat, yang membangun basis massa, dan bukan hanya untuk mesin pemilu," katanya.
Nezar mengakui, sebenarnya mereka yang pernah diculik itu masih punya mimpi tentang Indonesia yang baik. Indonesia yang berkeadilan. "Tentu caranya yang beda-beda. Taktiknya yang berbeda-beda. Saya masih intens berkomunikasi dengan kawan-kawan itu," kata master lulusan London School of Economic and Political Science.
Nezar juga masih merasa punya utang: mencari tahu "keberadaan" teman-teman korban penculikan yang hingga kini belum diketahui rimbanya. Caranya, dia tak pernah merasa lelah untuk menjaga isu ini tetap hidup. "Ini kehidupan kedua saya yang tak akan saya sia-siakan." (el)
Sabtu, 28-06-2008 03:45 (GMT+9.5)
Mantan Korban Penculikan Aktivis, Apa Aktivitas Mereka Kini (1)
Mugi Dampingi Korban, Jati dan Nezar Jadi Jurnalis
Sepuluh tahun lalu para aktivis diculik dalam sebuah operasi rahasia. Saat belasan korban tak diketahui nasibnya hingga kini, beberapa orang beruntung masih bisa kembali ke rumah. Apa yang mereka lakukan dalam kehidupan "kedua" mereka kini?
FAROUK ARNAZ, Jakarta
LUKA batin Mugiyanto hingga kini belum juga sembuh. Satu dasawarsa berlalu ternyata tak membuat dia lepas dari pengalaman traumatik itu. Terutama jika melihat tatapan mata Oetomo Rahardjo, ayahanda Petrus Bima Anugrah; ataupun Ibu Nung, ibunda Yadin Muhidin, yang masih berharap anak-anak mereka –dua di antara 13 korban penculikan– suatu hari akan pulang.
Menurut Mugiyanto, sebagai survivor (korban selamat) peristiwa penculikan, perasaan itu awalnya ini hanya soal personal. Dia merasa beruntung sehingga terdorong harus berjuang untuk teman-temannya. "Tapi, kini (sudah berkembang) soal keadilan, kepastian, dan kehidupan. Orang yang diculik bukan hanya teman-temanku," kata Mugiyanto yang kini menjadi ketua IKOHI (Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia) kepada Jawa Pos.
Bapak seorang orang anak kelahiran Jepara, Jawa Tengah, 34 tahun lalu, hanyalah satu di antara sembilan korban penculikan yang selamat. Delapan korban yang lain adalah Aan Rusdianto, Andi Arief, Desmond Junaidi Mahesa, Faisol Reza, Haryanto Taslam, Nezar Patria, Pius Lustrilanang, dan Raharja Waluya Jati.
Adapun yang masih hilang hingga kini adalah Yani Afri, Noval Al Katiri, Dedy Umar, Ismail, Herman Hendrawan, Petrus Bima Anugrah, Yadi Muhidin, Hendra Hambali, Ucok M. Siahaan, M. Yusuf, Sonny, dan Wiji Thukul. Seorang lagi, Leornardus "Gilang" Nugroho, ditemukan tewas.
Peristiwa penculikan itu terjadi pada akhir rezim kekuasaan Soeharto. Saat itu gerakan yang potensial dan dinilai radikal sehingga menggerogoti kekuasaan rezim harus dilenyapkan. Belakangan, operator lapangan kasus itu terungkap. Ada 11 anggota Kopassus yang divonis bersalah. Lima di antaranya dipecat.
Tidak berhenti sampai di situ. Mantan Menhankam/Panglima ABRI Jenderal Wiranto mengumumkan hasil sidang Dewan Kehormatan Perwira yang mengakhiri karir Letjen Prabowo Subianto yang saat itu menjabat komandan Sesko ABRI. Sementara mantan Danjen Kopassus Mayjen Muchdi Purwopranjono dan mantan Komandan Grup IV/Sandi Yudha Kopassus Kol Inf Chairawan dibebaskan dari semua tugas dan jabatan struktural ABRI.
"Sampai kapan pun saya tak akan pernah lupa kengerian yang diciptakan saat itu," tambah Mugiyanto yang ketika kejadian adalah salah seorang aktivis Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (Smid) –sebuah organisasi underbouw Partai Rakyat Demokratik (PRD)– yang dikejar-kejar rezim Soeharto sebgai buntut kerusuhan di kantor PDI pada 27 Juli 1996.
Hari nahas bagi mahasiswa Fakultas Sastra Inggris UGM itu terjadi pada 12 Maret 1998. Saat itu dia diciduk bersama Aan dan Nezar di rumah susun Klender, Jakarta Timur. Rumah itu dijadikan markas bawah tanah PRD yang tetap ramai meski ketuanya saat itu, Budiman Sudjatmiko, dibui. "Sejak diambil itu, semua siksaan saya rasakan," imbuhnya.
Mugi, sapaan akrabnya, lalu dikejar para penyekap dengan pertanyaan seperti siapa saja teman-temannya. Tak hanya interogasi, dia juga menjalani siksaan seperti disetrum dan dipukuli dalam keadaan tangan diborgol.
Pada 15 Maret 1998, dia, Nezar, dan Aan diserahkan ke Polda Metro Jaya oleh penculiknya. Di markas korps baju cokelat itu, Mugi cs diproses pidana. Dia dikenai pasal subversif. Tapi, pada 6 Juni 1998, dia dilepaskan dari tahanan setelah mendapat penangguhan penahanan buntut tumbangnya rezim Soeharto pada 21 Mei 1998.
"Aku baru merasa jadi manusia setelah dibebaskan," imbuhnya. Darah aktivis Mugi tak pernah berhenti menggelegak hingga akhirnya menjadi ketua IKOHI, organisasi tempat mendiang Munir menjadi penasihatnya.
Bertahan di dunia aktivis juga dilakoni Raharja Waluya Jati yang saat itu ditemui di forum yang sama dengan Mugi. Jati yang protolan Fakultas Filsafat UGM adalah salah seorang pimpinan PRD. Lelaki kelahiran Jepara, 24 Desember 1969, itu diculik di RS Cipto Mangunksumo, Jakarta, pada 12 Maret 1998 saat bersama Faisol Reza berjalan dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).
"Semua jengkal dari peristiwa itu masih saya ingat," kata Jati yang kini menjadi direktur eksekutif radio Voice of Human Rights. Munir adalah mantan ketua dewan pendiri VHR.
Mengapa masih setia dengan dunia aktivis? "Ini tanggung jawab moral. Saya pernah hidup dalam situasi itu. Reformasi belum selesai," kata Jati yang pernah disiksa penculik dengan dibaringkan telanjang di balok es.
Jati mengaku tetap menghormati pilihan rekan-rekannya yang sibuk dengan dunianya masing-masing. "Mereka merespons politik dan menyalurkan asipirasi dengan cara bermacam-macam. Andi Arief, misalnya, juga Reza (Faisol Reza)," tambahnya.
Nezar Patria, korban penculikan yang lain, menjalani kehidupan berbeda. Pascabebas dari penculikan, lelaki kelahiran Sigli, Aceh, 5 Oktober 1970, yang pernah menjabat Sekjen Smid memilih berkarir di jurnalistik. Dia pernah bergabung dengan majalah Tempo. Namun, belakangan dia bergabung dengan portal berita ekonomi dan politik Kanal One di media grup milik Aburizal Bakrie.
"Hingga kini belum ada partai politik yang cocok. Partai yang kuat, yang membangun basis massa, dan bukan hanya untuk mesin pemilu," katanya.
Nezar mengakui, sebenarnya mereka yang pernah diculik itu masih punya mimpi tentang Indonesia yang baik. Indonesia yang berkeadilan. "Tentu caranya yang beda-beda. Taktiknya yang berbeda-beda. Saya masih intens berkomunikasi dengan kawan-kawan itu," kata master lulusan London School of Economic and Political Science.
Nezar juga masih merasa punya utang: mencari tahu "keberadaan" teman-teman korban penculikan yang hingga kini belum diketahui rimbanya. Caranya, dia tak pernah merasa lelah untuk menjaga isu ini tetap hidup. "Ini kehidupan kedua saya yang tak akan saya sia-siakan." (el)
Monday, May 26, 2008
Pejuang Orang Hilang
Media Indonesia Edisi Cetak Siang - Polkam
Senin, 26 Mei 2008 10:16 WIB
Mugiyanto, Pejuang Orang Hilang
SUDAH 10 tahun berlalu. Namun, ke-13 orang aktivis prodemokrasi yang diculik hilang tidak tahu rimbanya. Hanya segelintir orang yang masih peduli dan memperjuangkan kembalinya tumbal demokrasi tersebut. Salah seorang di antaranya adalah Mugiyanto, mantan korban penculikan yang selamat.
Mantan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) itu kini mendirikan Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (Ikohi) sebagai wadah bagi keluarga dan mereka yang peduli untuk memperjuangkan kembalinya 13 aktivis yang masih belum kembali itu jika masih hidup. Apabila sudah meninggal keluarga bisa mengetahui di mana pusaranya.
"Saya merasa beruntung, beberapa teman belum ketahuan rimbanya. Korbanlah yang harus turut memperjuangkan nasibnya, tidak bisa menyerahkan kepada orang lain," Mugiyanto memaparkan alasan pendirian organisasi yang tidak punya cukup dana itu.
Dengan Ikohi, dia telah melakukan advokasi bagi korban maupun keluarga orang hilang ke dalam dan luar negeri untuk mengembalikan 13 rekannya tersebut. Ikohi tentu juga meminta pertanggungjawaban negara karena semua korban meyakini bahwa negara melalui tentara melakukan penculikan ini secara sistematis.
Keengganan Jaksa Agung melakukan penyidikan penghilangan paksa ini tidak membuat Ikohi putus asa. Pria kelahiran Jepara, 2 November 1973 itu yakin kunci penyelesaian masalah ini ada di tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Korban penculikan
Mugiyanto lalu mengisahkan penculikan dirinya, Jumat, 13 Maret 1998, pukul 19.00 WIB di rumah kontrakan di Klender, Jakarta Timur. Dia sempat diinterogasi di Koramil Duren Sawit sebelum dibawa ke Kodim Jakarta Timur. Dengan mata tertutup dia kemudian dibawa ke sebuah tempat yang tidak diketahuinya.
"Ketika turun dari kendaraan, saya langsung dihajar sampai jatuh dan berdarah-darah, ditelanjangi, disetrum dengan kedua tangan terikat di sebuah ruangan yang sangat dingin," ujar ayah satu anak itu.
"Saya membayangkan hidup akan berakhir di sini. Selama dua hari dua malam bersama Nezar (Patria) dan Aan (Rusdianto), mata saya diikat. Kami dihajar dan disetrum. Teman-teman yang sudah lama di sana, siksaannya lebih parah lagi," tambah sarjana lulusan Fakultas Sastra Inggris UGM itu.
Dia menduga dirinya selamat dari pembunuhan karena ditangkap dan sempat menjadi rebutan beberapa pihak, seperti Kodim, Koramil, Babinsa, polisi, dan Tim Mawar Kopassus. Anak petani itu lantas ditahan di Rutan Polda Metro Jaya sejak 15 Maret hingga 6 Juni 1998. Mugi mengaku tidak pernah merasakan kesedihan luar biasa kecuali saat ayah dan kakaknya menengok dia saat berada di tahanan polda. Suaranya pun tak terdengar, hanya terdengar isak tangis dan linangan air mata yang membasahi kedua pipinya.
Walau orang tuanya tidak ada yang tamat sekolah dasar, keduanya tetap menghargai dan bangga atas pilihan hidup putranya itu. "Hati-hati, karena yang kamu hadapi adalah negara. Mereka sangat kuat," kenang Mugiyanto soal pesan kedua orang tua.
Restu orang tua ini juga yang menjadi pendorongnya untuk tetap memperjuangkan idealisme walaupun harus berulang kali menghadapi ancaman dan berseberangan dengan kebijakan negara.
Idealisme membela yang lemah memang tidak pernah luntur dari jiwa Mugiyanto. Di saat teman-teman seperjuangannya, seperti Andi Arief menjadi Komisaris PT Pos Indonesia, Pius Lustrilanang dekat dengan Kopassus atau Desmond Junaidi Mahesa menjadi pengacara konglomerat Eka Cipta Wijaya, Mugiyanto lebih memilih keluar dari stasiun TV Belanda yang sempat menjanjikan kehidupan layak dan mendirikan Ikohi. *
xatria@mediaindonesia.co.id
Subscribe to:
Posts (Atom)